Optimalisasi Branding untuk Pariwisata yang Berkelanjutan

Optimalisasi Branding  : Aktifitas pariwisata sepertinya sudah kembali memasuki babak baru. Selain banyaknya penyelenggaran event, kolaborasi, inovasi serta adaptasi yang terus bergerak cepat dalam rangkaian menyukseskan program nasional pemerintah yang tepat sasaran, tepat manfaat dan tepat waktu, keramaian pengunjung disetiap destinasi juga memberikan dampak signifikan untuk mendorong percepatan pembangunan pariwisata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI bahkan nampaknya cukup serius menggandeng berbagai pihak untuk bekerja sama dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ataupun daya jual produk UMKM lokal yang dapat menembus pasar global seluas-luasnya. Hampir setiap saat “sang menteri milenial” tersebut kerab kali melakukan kunjungan untuk mengetahui secara langsung peluang apa saja yang mampu diberdayakan dalam mem-branding ulang beragam subsektor pariwisata dan ekonomi kreatif di tanah air yang sangat potensial, terutama dengan memanfaatkan era digitalisasi sebagai trend terkini.Brand dapat diartikan sebagai sebuah aset. Seperti halnya bisnis, representasi brand di dalam industri ini sepenuhnya perlu dirancang dengan sangat matang, disamping memang gencarnya persaingan yang seiring waktu sulit dihindari serta kebutuhan pasar yang terus beradaptasi ke arah lebih modern. Maka dari itu proses branding di sejumlah objek wisata merupakan bagian penting dari upaya komunikasi pemasaran yang harus dilakukan oleh pihak penyelenggara guna menguatkan karakteristik yang khas di benak para pengunjung.

Melalui keberadaan suatu brand yang baik pula tentu akan menjadi pendekatan tersendiri dalam menentukkan reputasi daerah tujuan wisata yang semakin unggul “quality of opportunity” termasuk juga terciptanya kualitas pengalaman berwisata publik “quality of experience”. Bahkan dari sudut pandang lain, Hermawan (2017) mengkategorikan keberhasilan branding diukur oleh 3 instrumen yang meliputi: brand positioning, brand identity, dan brand personality. Pada prinsipnya, strategi tersebut akan sangat membantu pihak penyelenggara dalam mengatasi krisis identitas terhadap suatu destinasi pariwisata yang kadang fenomenanya hanya bersifat musiman semata.

Destination Branding dalam Praktiknya

Pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan di setiap kawasan harus berdimensi pada aspek pemerataan, partisipasi, keanekaragaman lingkungan, integrasi dan perspektif berjangka panjang. Sehingga diharapkan dapat memberikan keseimbangan terhadap banyak hal, karena tidak hanya berfokus pada penggunaan sumber daya alam saja melainkan kegiatan pariwisatanya pun turut memperhatikan keberlangsungan hidup dan sistem ekonomi sumber daya manusia yang akan terjamin dimasa mendatang “quality of life”. Secara strategis industri tersebut bahkan diyakini dapat membuat masyarakat semakin sejahtera. Namun disisi lain, pihak penyelenggara tentu memiliki tantangannya masing-masing dalam menjaga loyalitas para pengunjung yang tanpa disadari juga terus disuguhkan banyak referensi berwisata di sejumlah media alternatif.

Optimalisasi Branding Pemerintah sebagai pemangku kebijakan diharapkan tiada henti untuk dapat mengorganisir setiap wilayah dengan kekayaan pariwisatanya yang melimpah. Terutama dengan penciptaan ikon menarik berdasarkan latar-belakang, daya dukung kawasan maupun kebiasaan masyarakat lokalnya agar mudah dikenal “calon wisatawan” serta publik luas. “Destination Branding” pun menjadi salah satu konsep pengembangan yang dapat dioptimalkan di setiap kegiatan promosi pariwisata. Morgan dan Pritchard memberikan pandangan bahwa destination branding cukup handal dalam membentuk pandangan serta kesetiaan publik terhadap keberadaan produk-produk pariwisata yang semakin kompetitif. Sebagai bagian dari metode pemasaran, destination branding itu pula diibaratkan seperti pondasi yang berfungsi mempertahankan kesuksesan bisnis pariwisata.  Sejak awal tahap perencanaan, perkenalan, pelaksanaan hingga ke tahap pemantauan sekalipun pihak penyelenggara perlu menganalisis berkala keberadaan suatu brand yang ditawarkan, idealnya untuk perbaikan di masa mendatang. Yang mana praktik tersebut juga sejalan dengan salah satu prinsip dalam pengelolaan manajemen “evaluasi dan monitoring” pariwisata yang berkelanjutan.