Mengangkat Kisah Personal Mampu Membangun Branding Produk

WARTAKOTALIVE.COM – Dalam berbisnis, tentunya banyak hal yang harus dilakukan pelaku usaha untuk mendukung usaha tersebut. Salah satunya adalah membangun sebuah brand atau merek sebagai identitas produk.

Aktivis brand Arto Biantoro mengatakan, dalam membangun sebuah brand, perlu dilakukan brand touch point atau bentuk interaksi dan komunikasi yang terjalin antara brand dengan para konsumennya dengan pendekatan lima panca indera manusia.

“Ketika kita membangun identitas brand kita harus mampu membangun seluruh kegiatan kreatif kita ke dalam lima sensor (panca indera) tadi. Maksudnya, cara kita berpakaian, cara kita berbicara, cara kita mendesain toko kita, kemasan kita, membuat SOP kita dan lain-lain. Itu adalah bagian dari kegiatan touch point yang pada akhirnya menciptakan sebuah identitas, nah ini yang sering kali dilupakan oleh banyak pelaku usaha,” ungkap Arto dalam Webinar bertema ‘Kesalahan Pelaku UMKM yang Mmebuat Bisnis Terhenti’, Selasa (21/6/2022).

Selain itu, lanjut Arto, harus ada unsur pembeda dalam sebuah brand. Menurutnya, tidak ada unsur pembeda yang bisa datang dari kisah pribadi atau kisah pribadi yang bisa dijadikan narasi untuk membangun sebuah brand.

“Unsur pembeda yang sangat kuat sekali datang dari diri sendiri jadi kalau bicara diri sendiri berbeda-beda. Misalnya, meski sama-sama jualan kopi, yang satu latar belakang bisa jadi mahasiswa dan satu petani yang tinggal dihutan lalu menemukan cara mengolah kopi secara primitif namun menarik, nah konteks personal story itu yang bisa dibawa sebagai salah satu narasi untuk menciptakan unsur pembeda, ” sebut Arto.

Sementara itu, Direktur Bisnis dan Pemasaran Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (LLP-KUKM) Kementerian Koperasi dan UKM Wientor Rah Mada menyebutkan bahwa banyak pelaku usaha di Indonesia terutama yang mikro yaitu mereka yang tujuan bisnisnya adalah bagaimana mereka berjuang untuk hidup, sehingga biasanya bisnis yang mereka lakukan ini bisa berganti kapan saja.

“Dia melihat banyak yang jualan cilok ikutan jualan cilok, lalu lihat banyak yang jualan bakso aci, ikutan jualan bakso aci. Model bisnis yang seperti ini yang tidak bisa bertahan lama,” ucapnya.

Tak hanya itu, lanjut Wientor, banyak juga pelaku usaha pada kategori kecil dan menengah lebih fokus pada penciptaan produk dan juga menghadirkan cerita pribadi.

“Banyak memang teman-teman UMKM kita yang masih memerlukan pemahaman tentang itu, mereka menciptakan produk yang luar biasa bagus dan fungsi yang luar biasa bagus tapi mereka tidak bisa membuat cerita pribadi di belakangnya,” tulisnya.

Menurut Wientor, bagi para UMKM yang bertahan melewati masa pandemi, inilah saatnya untuk kembali mengembangkan keahlian yang dimiliki agar bisnis yang dijalani lebih berkembang kedepannya.

“Jadi bagi kawan-kawan UMKM yang kemarin belajar dengan melakukan bagaimana caranya untuk bertahan hidup, untuk sekarang ini bagaimana kita mengembangkan keterampilan yang sudah dimiliki sehingga memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mencapai pasar yang lebih luas lagi,” pungkasnya.