Ini 6 Penyebab Kekacauan Pasar Kripto

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebelum adanya kasus kejatuhan koin digital (token) Terra, pasar kripto membentuh tren penurunan sejak awal tahun ini.

Hal ini karena investor menilai bahwa pada tahun ini, inflasi global diprediksi melonjak dan membuat banyak bank sentral mengetatkan kebijakan suku bunga acuannya.

Di Bitcoin, sepanjang tahun ini saja harganya sudah ambruk hingga 55,8%, berdasarkan data dari CoinMarketCap. Sedangkan dari harga tertingginya sepanjang masa atau tinggi sepanjang masa (ATH) di US$ 69.000 yang terbentuk pada November tahun lalu, Bitcoin sudah anjlok sekitar 70%.

Dari kapitalisasi pasarnya, Bitcoin yang sebelumnya sempat menyentuh lebih dari US$ 1 triliun pada November tahun lalu, kini kapitalisasi pasarnya sudah jauh berkurang yakni mencapai US$ 400 miliar.

Tak hanya di Bitcoin saja, Ethereum, token alternatif (koin alternatif/altcoin) terbesar berdasarkan kapitalisasi pasarnya juga merana pada tahu ini.

Sepanjang tahu ini, Ethereum sudah ambles hingga 62,35%. Sedangkan dari posisi ATH-nya di sekitar US$ 4.800 pada November 2021, Ethereum sudah ambrol 71%.

Dari kapitalisasi pasarnya, Ethereum yang sebelumnya sempat menyentuh US$ 570 miliar pada November tahun lalu, kini kapitalisasi pasarnya mencapai US$ 170 miliar.

Sejatinya, koreksi parah di kripto bukan baru terjadi pada tahun ini. Secara historis, pasar kripto sudah mengalami beberapa kali koreksi parah, yakni pada tahun 2017 dan pertengahan 2021.

Tetapi dibandingkan dengan sebelumnya-sebelumnya, koreksi parah kripto tahun ini menjadi yang paling parah karena berdampak pada banyaknya perusahaan kripto yang mengalami krisis likuiditas.

Terlepas dari volatilitasnya yang cukup tinggi, banyak investor yang masih tertarik pada mata uang kripto. Menurut Vin Narayanan, vice president of strategy Early Investing, ketika mengadopsi kripto meningkat maka pergerakannya akan cenderung stabil.

“Ketika adopsi kripto meningkat, itu akan menjadi lebih stabil. Sampai saat itu, bagaimanapun, investor mungkin ingin tahu apa yang harus dicari sehingga mereka tidak terbakar oleh menabrak kripto,” kata Narayanan, dikutip dari Berita AS & Laporan Dunia.

Namun apa penyebab kejatuhan kripto tahun ini lebih parah dari tahun 2017 dan 2021, berikut adalah enam penyebabnya.

1. Banyak Investor yang Menggunakan Pinjaman

Beragam cara dapat digunakan oleh investor di kripto untuk mendapatkan keuntungan jual beli yang lebih besar dan tentunya cepat. Salah satunya adalah dengan menggunakan cara manfaat.

Manfaat adalah strategi investasi dimana investor menggunakan modal pinjaman (modal pinjaman) untuk meningkatkan potensi komunikasi (kembali) investasi mereka.

Tujuannya adalah untuk melipatgandakan potensi keuntungan dari sebuah proyek. Namun di sisi lain, strategi manfaat ini juga dapat meningkatkan risiko kerugian apabila investasi tidak berjalan dengan baik.

Manfaat dalam perdagangan baik di saham maupun kripto terjadi ketika seorang pedagang meningkatkan posisi investasi mereka dengan menggunakan berbagai instrumen mulai dari kontrak pilihankontrak masa depanmaupun batas. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kembali yang bisa mereka peroleh.

Dengan banyaknya investor atau pedagang yang menggunakan metode ini, maka risikonya pun semakin besar. Apalagi sebagian besar investor di kripto merupakan investor ritel yang tentunya belum mengetahui secara menyeluruh metode terkait ini.

Berdasarkan data dari perusahaan kripto kuantitatif yakni CryptoQuant, rasio manfaat Bitcoin mencapai tertinggi sepanjang masa pada awal Januari lalu, menandakan bahwa investor banyak mengambil risiko di ruang kripto.

Namun, menurut Simon Peters, senior account manager di eToro, mengatakan bahwa jumlah manfaat ini bisa mengejar volatilitas kripto dalam waktu dekat.

“Seperti kelas aset lainnya, penurunan harga dapat menyebabkan likuidasi posisi jangka panjang. Kemudian, ketika harga turun dan pemegang kontrak berjangka mulai melikuidasi posisi mereka, harga bisa turun lebih jauh. Ini adalah siklus yang mirip dengan apa yang terjadi pada pasar saham pada tahun 1929. dan 2008,” kata Peters, dilansir dari Berita AS & Laporan Dunia.

Namun jenis menabrak seperti ini sangat berbahaya bagi pasar seperti kripto yang pergerakannya cenderung tidak likuid.

2. Kurangnya Likuiditas di Pasar Kripto

Masalah terbesar yang dihadapi pasar saat investor mengambil manfaat tidak mampu memenuhi likuiditasnya dan menyebabkan krisis likuiditas.

Tak semuanya memiliki kapitalisasi pasar dan persediaan yang terbatas. Ada kripto yang kapitalisasinya sangat kecil dan persediaannya tidak terbatas.

Untuk beberapa kripto dengan kapitalisasi pasar kecil, perputaran dana bisa jadi sangat kecil dan transaksi sangat minim. Dengan dana yang sedikit maka likuiditas akan terhambat dan proses penjualan atau membeli token akan sulit dilakukan.

Karena itu, faktor likuiditas ini sangat penting diperhatikan jika ingin membeli kripto, semakin tinggi likuiditasnya semakin baik, dan sebaliknya.

Apalagi, jika ada investor yang tidak dapat memenuhi panggilan margin-nya setelah investor mengambil posisi batas.

Panggilan margin adalah suatu istilah yang terjadi saat broker akan memastikan para pemegang posisi untuk melakukan penambahan modal di atas transaksi dasar batas.

Seperti di saham, hal yang akan terjadi jika sang pemegang posisi tidak mampu membayar panggilan margin tersebut.

Jika tidak mampu menyetorkan dana dalam jangka waktu tertentu, broker akan melakukan penutupan terhadap seluruh posisi yang dimiliki oleh investor baik melakukan penjualan pada posisi long (jual paksa) ataupun pembelian pada posisi pendek.