Bali Gali Kekhasan Produk Hortikultura

DENPASAR, NusaBali – Pemasaran produk merupakan pertanian salah satu tantangan dalam pembangunan pertanian di Bali termasuk pada produk holtikulturanya. Untuk dapat menembus pasar secara luas, produk holtikultura Bali harus memiliki ciri khas.

Dalam hal ini pertanian yang merupakan akar budaya Bali dapat diintegrasikan ke dalam brand image produk holtikultura Bali.

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan seminar Hortalk sekaligus pengukuhan pengurus Perhorti (Perhimpunan Holtikultura Indonesia) Komisariat Daerah Bali masa bakti 2022-2025 di Gedung Agrokomplek Kampus Universitas Udayana Sudirman, Jumat (15/7).

Salah satu pembicara, Prof Ir I Made Supartha Utama MS PhD menuturkan selain wajib mengadopsi teknologi pertanian Bali juga harus memiliki nilai-nilai budaya yang telah mengakar lama dalam Bali. “Teknologi yang berkembang dinamis harus dimanfaatkan, juga nilai-nilai budaya kita di sistem pertanian. Inilah yang berkembang dengan sistem pertanian yang cerdas,” ujar Prof Supartha Utama. juga dikukuhkan sebagai Dewan Penasihat Perhorti Komda Bali.

Guru besar Fakultas Pertanian Unud ini menyebut potensi pertanian hortikultura Bali sangat tinggi. Sembilan kabupaten/kota di Bali masing-masing memiliki produk andalan masing-masing. Menurut data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, komoditas manggis yang menjadi salah satu andalan ekspor Bali memiliki potensi produksi hingga 24.000 ton per tahun. Sementara produksi jeruk di Bali memiliki potensi produksi hingga 486.000 ton per tahun. Namun dengan skala sebesar itu, produk hortikultura Bali akan kesulitan bersaing dengan produksi di negara lain yang jumlahnya jauh lebih besar. Karena itu, produk hortikultura Bali harus memiliki sesuatu yang unik, agar bisa bersaing secara berkelanjutan dengan produk negara lain.

Masyarakat Bali, ujarnya, memiliki sejarah panjang dalam mengolah alam Bali dalam bentuk pertanian. Hebatnya, dalam mengolah alamnya, masyarakat Bali nilai-nilai yang mendukung alam itu sendiri. “Leluhur kita mengkreasikan Bali yang kecil ini. Tapi dengan memperhatikan nilai-nilai lingkungan. Di sisi lain juga ada nilai-nilai kemanusiaan, bahkan ada nilai spiritual,” sebut Prof Supartha Utama.

Lebih jauh dikatakan, nilai-nilai tersebutlah yang memicu ketertarikan banyak pihak hingga akhirnya berkembang di Bali hingga saat ini. “Saya melihat, nilai daya saing kita adalah nilai-nilai budaya kita di pertanian. Ada nilai kemanusiaan, sosial, ekologi, dan spiritual, itu harus masuk di dalam sistem kita di samping nilai-nilai intrinsik seperti kualitas atau keamanan pangannya. Itulah nanti, dasar filosofi, branding dari produk Bali,” sebut Prof Supartha Utama.

Lebih lanjut dia menjelaskan, konsumen produk hortikultura Bali sangat beragam. Mulai masyarakat lokal di Bali, luar Bali, ekspor, dan terutama pasar pariwisata di Bali. Wisatawan yang datang ke Bali tentunya memiliki preferensi tersendiri dalam memenuhi kebutuhannya akan produk hortikultura. Hal tersebutlah yang seharusnya dapat dijangkau oleh produsen hortikultura di Bali, yakni mengenal kebutuhan para wisatawan yang datang ke Bali.

Pariwisata dan pertanian di Bali, ujar Prof Supartha, sangat mungkin melakukan kolaborasi demi kemajuan bersama. Pariwisata Bali tidak dapat dipungkiri mengandalkan budaya Bali sebagai daya tarik utamanya. Pun dunia pertanian di Bali bisa melihat pariwisata sebagai potensi besar untuk memasarkan produk-produknya. “Bagaimana turisnya mendapatkan pengalaman yang berharga melihat sistem dengan budaya yang ada. Ini yang saya namakan sistem nilai timbal balik pertanian,” ucap Prof Supartha Utama.

Praktisi dari generasi milenial, AA Gede Agung Wedhatama, yang menjadi narasumber lainnya, pentingnya peran teknologi 4.0 (smart technology) dalam mengembangkan di Bali tanpa lingkungan (smart culture). Melalui gerakan ‘Petani Muda Keren’ Agung Wedhatama membuktikan jika sektor pertanian merupakan bidang yang masih ‘seksi’ untuk digeluti kaum milenial di Bali.

Mengadopsi penggunaan teknologi IoT (Internet of Things), Agung Wedhatama menunjukkan kalau produksi pertanian yang dihasilkan petani bisa lebih optimal, meskipun pada lahan yang tidak begitu luas.

Dia mencontohkan pada proyek smart farming yang membeli lahan hanya seluas 10 yang mampu memproduksi berjenis sayuran. Antara lain, brokoli, kubis, cabai, tomat, dan sawi putih yang menghasilkan omzet penjualan mencapai Rp 200 juta. “Penggunaan teknologi itu wajib, mulai pada sektor hulu sampai hilir,” ujar Agung Wedhatama.

Tidak hanya di hulu, penggunaan teknologi juga digunakan pada sektor hilir. Petani memperkenalkan teknologi pengolahan hasil pertanian hingga pengembangan aplikasi pertanian. Lebih jauh dikatakan, masyarakat Bali tidak bisa meninggalkan sektor pertanian karena pertanian merupakan akar kebudayaan Bali. Masifnya pariwisata di Bali tidak akan terjadi tanpa adanya budaya pertanian.

Dia justru mengajak masyarakat Bali mengembangkan kembali pertanian agar sektor pariwisata Bali juga bisa terus bertahan. Menurut Agung, pariwisata harus dilihat sebagai bonus semata dari kearifan masyarakat Bali yang mengembangkan budaya pertaniannya. “Jadi fundamentalnya pertanian, pariwisata hanyalah bonus. Kami sedang kembangkan di PMK (Petani Muda Keren), rumah petani jadi home stay, dapur-dapur petani menjadi restoran, kebun petani menjadi pengalaman. Jadi petani menjadi subyek bukan obyek,” tandas Agung Wedhanta .7cr78.